Zoom Meeting Pembekalan Bela Negara Kepada Setya Kita Pancasila Se-Indonesia oleh Laksdya TNI (P) DR. Desi A. Mamahit, M.Sc dan Ken Setiawan Ketua NII Crisis Center





Jakarta,Suaraperjuangan.id –Berangkat dari tujuan suatu ormas berdiri adalah untuk berpartisipasi dalam pembangunan demi tercapainya tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Ormas Setya Kita Pancasila pada hari Sabtu, tanggal 10 April 2021 tepatnya pukul 18.00 – 21.00 telah melakukan webinar tentang Bela Negara terhadap pengurus dan anggota Setya Kita Pancasila dari berbagai tingkatan kepengurusan.

Poto : Ketua Umum Setya Kita Pancasila Andreas Sumual.

Andreas Sumual Ketua Umum Setya Kita Pancasila mengatakan, "Webinar Bela Negara ini penting karena untuk membekali pengurus dan anggota agar memiliki pengetahuan yang komprehensif sehingga gilirannya diharapkan memiliki kemampuan dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya sebagai pengurus dan anggota Setya Kita Pancasila, karena fungsi hadirnya Setya Kita Pancasila diantaranya adalah untuk membela negara".

Poto : Laksdya TNI (P). DR. Desi A. Mamahit, M.Sc.

Acara pembekalan ini langsung diberikan oleh narasumber-narasumber yang memang pakar dibidangnya, yaitu narasumber pertama Bapak Pembina Setya Kita Pancasila Laksamana Madya TNI (Purn.) Dr. Desi Albert Mamahit, M.Sc yang karir beliau diantaranya pernah sebagai Rektor UNHAN RI (2014-2015),  Kepala Badan Keamanan Laut RI (2015-2016) dan adalah penerima Piagam Penghargaan Perwira Pengajar Teladan di Kodikal Tahun 2001.

Poto :Sekjen Setya Kita Pancasila Meyske Yunita.

Narasumber kedua Bapak Ken Setiawan seorang yang pernah tercatat, bergabung menjadi anggota Negara Islam Indonesia (NII), organisasi terlarang di Indonesia sejak tahun 1962 silam. Bahkan, Ken pernah dinobatkan di organisasi itu sebagai perekrut terbaik di awal tahun 2000-an. Ken sendiri


Poto : Ken Setiawan Ketua NII Crisis Center.

Menyebut pernah bergabung dalam organisasi ini sekira tiga tahun lamanya dan Ken pun sempat menjadi petinggi kelompok radikal tersebut. Hingga akhirnya memutuskan berhenti dan keluar dari NII, dan mendirikan NII Crisis Center sebagai pusat rehabilitasi korban jaringan NII maupun organisasi radikal sejenis lainnya.

 

Bapak DR. Mamahit mengawali pemaparannya dengan menjelaskan bahwa Negara Indonesia yang luas dan indah ini dihuni oleh ±1340 suku bangsa dan ±740 bahasa. Tentang ada pernyataan yang menyatakan Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun, menurut beliau itu keliru, karena Indonesia, yang saat itu disebut Nusantara terdiri dari kerajaan-kerajaan. Masing-masing kerajaan ketika itu melakukan pembelaan atau perlawanan terhadap bangsa-bangsa asing yang akan menguasai kerajaan mereka, sehingga kita kenal ada perang Paderi, perang Sisingamangaraja, perang Bali, dan lain-lain, karena itu tidak ada satupun wilayah di Indonesia yang benar-benar dijajah selama 350 tahun. Dan sejak 1945 semua kerajaan-kerajaan itu telah bersatu meleburkan dan bergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Mengenai Bela Negara diantaranya beliau mengatakan bahwa sesuai Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2019  Setiap Warga Negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha Bela Negara yang diwujudkan dalam penyelenggaraan Pertahanan Negara. Keikutsertaan Warga Negara dalam usaha Bela Negara diselenggarakan melalui: pendidikan kewarganegaraan; pelatihan dasar kemiliteran secara wajib; pengabdian sebagai prajurit Tentara Nasional Indonesia secara sukarela atau secara wajib; dan pengabdian sesuai dengan profesi.


Pendidikan kewarganegaraan dilaksanakan melalui Pembinaan Kesadaran Bela Negara dengan menanamkan nilai dasar Bela Negara. Pembinaan Kesadaran Bela Negara diselenggarakan di lingkup: pendidikan; masyarakat; dan pekerjaan. Hak Warga Negara dalam usaha Bela Negara berupa: mendapatkan pendidikan kewarganegaraan yang dilaksanakan melalui Pembinaan Kesadaran Bela Negara; mendaftar sebagai calon anggota Tentara Nasional Indonesia; dan mendaftar sebagai calon anggota Komponen Cadangan.


Sedangkan Bapak Ken Setiawan yang turut mengshare pengalamannya dalam pembekalan lewat webinar ini mengungkapkan bahwa mulainya ia bergabung ke dalam organisasi NII karena pemahaman terhadap Pancasila yang salah. Ken menjelaskan bahwa oknum tersebut memanipulasi ayat-ayat kitab suci, sehingga tampak bahwa penghormatan Pancasila merupakan salah satu bentuk berhala. Ken juga menjelaskan “saat kita memahami Pancasila dengan benar, maka tidak akan mudah terpengaruh radikalisme”.


Acara  Pembekalan lewat zoom meeting ini diikuti oleh Pembina Bapak Brigjend TNI (P) Junias L. Tobing, Ketua Umum Andreas Sumual, Sekjen Keke Yunita, Waketum Bruri Tumiwa dan Pengurus Harian dan Pleno Dewan Pimpinan Pusat, Ketua-ketua Dewan Pimpinan Wilayah / Dewan Pimpinan Daerah serta Pengurus dan anggota Setya Kita Pancasila se-Indonesia. Acara ini berakhir sekitar jam 20.15 WIB dengan saling bertegur sapa memperkuat silahturahmi, diantara peserta yang hadir setelah diberikan kesempatan oleh host Geraldo Yunahya salah satu pengurus harian DPP Setya Kita Pancasila.

(Riyo E.Nababan/Andreas Sumual)

 

Post a Comment

0 Comments