Kudeta Terselubung Dalam Ruang Demokrasi Tanpa Dasar Etika dan Moral (Praduga)

"Kajian Analisis"
Andy Sadipun Komber

Papua,Suaraperjuangan.id - Kudeta berasal dari bahasa Prancis Coup d'Etat atau ku-da-ta artinya, Coup "merobohkan" legitimasi atau pukulan pada Negara. Arti lainnya, sebagai tindakan pengambilalihan kekuasaan terhadap seorang atau pihak yang berwenang atau ingin berkuasa dengan cara ilegal. (Bisa dengan konsep konstitusi parlemen dan tindakan brutal massa).

Menurut Andy Sadipun Komber/ Koordinator Setya Kita Pancasila Tanah Papua : 
"Bahwa tidak ada yang ingin merebut kekuasaan dengan maksud melepaskannya" George Orwell 1984

Contoh kudeta terhadap Halie Selassie, Ethiopia 1960, kudeta Sadam Huesin 1996, The July Pustch 1934, kisah Jerman Adolf Hitler vs Austria Engelbert Dollfuss, insiden Kyujo Japan Kaisar Hiroto dengan peristiwa Hiroshima 6 Agustus 1945 dan Nagasaki, upaya kudeta terhadap Charles de Gaulle Aljazair 1961 dan beberapa proses kudeta lainnya oleh kaum Quomintang dan Tongmenghui terhadap Dinasti Qing, pelengseran Muamar Al Ghadafi di Yaman yang dilakukan untuk menggulingkan kekuasaan yang sah.

Selanjutnya;  tokoh muda dari tanah Papua ini menduga, polemik gerakan politik di Indonesia bersifat Fluktuatif tergantung momen. Dimana peran oposisi sudah menyimpang dari makna ETIKA dan MORAL serta telah bergeser jauh dari tempat yang sebenarnya, dengan menggunakan strategi linier tambal sulam dan penuh kemunafikan. artinya, ingin menghalalkan segala cara saat negara lagi terhimpit kemelut dalam segala aspek, untuk mencapai tujuannya. Yakni ada upaya untuk merubah Nilai Dasar Pancasila dengan paham lain yang melanggar konstitusi negara. 

Narasi politik yang digunakan ialah dengan mengumbar berita HOAX atas kebijakan Pemerintah dengan menuduh kebangkitan PKI, ekonomi negara hancur, utang negara membengkak, pembangunan infrastruktur dikatakan program gagal, tebar isu SARA sebagai bola liar antar sesama anak bangsa agar saling bermusuhan, pembungkaman berpendapat, dan yang sangat memalukan ialah tuduhan bisnis Covid-19 yang kenyataannya pemerintah saat ini berupaya keras menyelamatkan nyawa rakyat yang dicintainya serta semua tudingan lainnya yang tak beradab. Sebab dimata, hati dan pikiran mereka hanya ada unsur negatif dalam menilai semua kebijakan pemerintah, tanpa pernah bertemu langsung dan mengecek kebenaran, alasan kebijakan serta valid tidaknya data. Mereka tetap yakin diri bahwa gagasannyalah yang paling benar. Semua dilakukan untuk menghilangkan tingkat kepuasan dan percaya masyarakat pada pemerintah dan menciptakan situasi chaos baik politik maupun aspek negatif lainnya.

Sangat disayangkan sebab dilakukan oleh para pakar politik tata negara yang nota bene tak mendapat panggung oleh kekuasaan yang SAH secara konstitusi. Lebih halus lagi, dapat dikatakan bahwa kumpulan kelompok SAKIT hati lagi mencari panggung dengan berbagai asumsi kritikan dan hinaan yang dangkal untuk meluapkan rasa SAKIT KEJIWAAN yang diderita. Mereka lupa kalau konsep gagasannya tak bermoral yang dibangun hanya menjadi lelucon. Artinya; kepandaian tanpa Moral=Nihil=0 BESAR. Sebab semakin mereka para oposan berkoar-koar dengan dasar teori radikal dan stigmatisasi kamuflase, semakin jelas pula deteksi kejiwaan mereka telah mencapai stadium akhir dari tingkat kejenuhan berapriori dan berhalusinasi. Ketika tingkat haus akan kekuasaan memuncak, maka segala cara dilakukan tanpa memikirkan dampak luas bagi rakyat. Mereka selalu berbicara mengatasnamakan rakyat namun tak pernah memikirkan dan memberikan solusi bagi Pemerintah. Asusmsi mereka hanya ingin mengkritik dengan teori dasar untuk memecah belah persatuan dan kesatuan antar sesama anak bangsa tanpa memberi solusi. Sebab hal esensi yang dibangun adalah bagaimana menimbulkan energi negatif bagi publik guna merusak citra pemerintah, bukan menopang pemerintah dalam perbaikan sistim kebijakan dan tata negara yang baik untuk kemakmuran rakyat. Sebab itu, mereka akan beralasan bahwa kami hanya mengkritik, pemerintah harus mencari solusinya, sebab apa guna pemerintah digaji negara? ini pernyataan yang sangat dangkal pertanda pribadi yang tak bermoral sebab hanya bisa lempar batu sembunyi tangan. 

Kritikan dan oposisi sangat dibutuhkan pemerintah dalam mengontrol segala kebijakan yang dijalankan namun kritikan serta hinaan tanpa dasar dan solusi adalah sia-sia. Sebab, 
"Terkadang orang GILA sekalipun, masih memikirkan kebaikan bagi sesama dibanding orang yang haus akan kekuasaan". ASK

Marilah, kita eratkan tali persatuan dan kesatuan antar sesama anak bangsa dalam membangun kesejahteraaan dan kemakmuran bagi bangsa dan negara.

Teruslah berkarya bapak PRESIDEN beserta Jajaran. Disamping kiri, kanan, muka dan belakang, ada ratusan juta rakyat mu, yang setia menjaga, melindungi dan membentengi bapak PRESIDEN.

"Succes is not measured by what you accomplish, but by the opposition you have encountered, and the courage with which you have maintained the strunggle againts overwhelming odds". (Swett Orison Marden).

(Riyo E.Nababan/Andy Sadipun Komber)


Post a Comment

0 Comments