Bawang Putih 99 Bibit Lokal Asli Majalengka Akan Menjadi Solusi Kurangi Impor Dan Jalan Menuju Kesejahteraan Petani

Majalengka,Suaraperjuangan.id - Bawang putih merupakan varietas yang cocok di daerah beriklim subtropis, tidak diketahui dengan pasti darimana varietas ini berasal namun sejak 2000-3000 SM di Yunani  umbi  ini digunakan untuk obat dan dikaitkan dengan mistis selain sebagai bumbu masakan. Untuk daerah iklim tropis bawang putih bisa tumbuh dengan suhu antara 15° -  20° C dalam ketinggian 1000 – 1500 mdpl. Tapi memang masih lebih baik bawang putih tumbuh di iklim subtropis dengan intensitas matahari 17 jam/hari sedangkan di iklim tropis hanya 10 – 12 jam/hari. Bisa kita lihat di China yang beriklim subtropis sebagai negara terbesar impor bawang putih ke Indonesia produksi bawang putih mencapai 30 ton/ha sedangkan di negara kita rata – rata 7-8 ton/ha.

Tahun 1994 – 1998 bawang putih kita mengalami kejayaannya dan disebut Indonesia Swasembada Pangan bawang putih dengan mampu produksi 150.000 ton di luas lahan 22.000 ha. Pada tahun 1999 kran impor di buka dari sanalah bawang kita mengalami penyusutan produksi, tahun 2000 angka produksi  59.018 ton  (Luas Lahan 8.431 Ha ) dan terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun sampai tahun 2014 dengan angka  produksi  16.894 ton ( Luas Lahan 2.413 Ha ) dan level  terendah pada tahun 2010 dengan hanya mampu produksi 12.295 ton ( Luas Lahan 1.756 Ha ). Sejak tahun 2015 sampai sekarang produksi bawang putih memang mengalami tren positif dan naik produksinya dari tahun ke tahun. Di tahun 2021 diperkirakan produksi kita dikisaran 98.387 ton ( Luas Lahan 14.055 Ha ) dimana tahun sebelumnya 81.805 ton ( Luas Lahan 11.636 Ha ). Artinya mesti ada kenaikan produksi dari tahun ke tahun kita belum bisa mengembalikan kejayaan kita dimana pada waktu itu luas lahan bawang putih 22.000 Ha walaupun  dengan produksi di lahan tersebut  kebutuhan konsumsi dalam negeri belum bisa terpenuhi karena kebutuhan meningkat pula dimana saat ini kebutuhan bawang putih mencapai  570.000 ton/tahun yang akan tercukupi dengan luas lahan tanam 73.000 Ha. Catatan dari data yang saya dapatkan kita memiliki lahan 600.000 Ha yang tersebar di 200 kabupaten dan saat ini kita hanya mampu  tanam bawang putih di 110 kabupaten.

Mengamati data – data diatas dimana ada penyusutan lahan yang menyebabkan penurunan produksi dari tahun ke tahun dan angka produksi kita dengan China perbandinganya 1 : 4 sangat beralasan jika petani kita kalah bersaing dengan negara lain sehingga produksi bawang putih ditinggalkan petani. Biaya produksi dengan perbandingan seperti itu dua kali lipat lebih mahal  dibanding dengan biaya impor dari China. Hal lain dari data diatas dimana dari waktu ke waktu produksi per hektarnya masih tetap konstan di angka  rata – rata 7 ton/ha, yang artinya kita masih belum mampu menemukan varietas unggul yang mampu meningkatkan kualitas dan terutama kuantitas produksi. Harapan saya kita mampu menemukan bibit unggul yang mampu tumbuh sangat baik di iklim tropis dan dataran rendah. Kenapa harus dataran rendah karena ini akan menurunkan biaya produksi dan distribusi. Sehingga tanpa interpensi dan campur tangan pemerintahpun petani bergairah kembali untuk produksi bawang putih.

Sengaja saya berupaya keras dan mencoba mempelajari secara terpirinci tentang produksi bawang putih ini karena Indonesia saat ini angka impor bawang putih di tahun 2020 mencapai 95 % dari total kebutuhan sehingga kalau kita mampu swasembada pangan bawang putih bisa menghemat devisa 8 Tryliun dan uang sebesar ini bisa kita manfaatkan dalam peningkatan kesejahteraan petani. Hal lain yang membuat saya bekerja sedikit ekstra dalam  mengumpulkan data dan referensi ilmiah tentang bawang putih terkait hal yang saya temukan di desa Nunuk Baru Kecamatan Maja Kabupaten Majalengka dimana disana ada petani yang mampu bertahan produksi bawang putih dari tahun 1984 sampai sekarang tahun 2021 walau di tahun 1999 bawang putih di serang oleh bawang impor dari China. Dan hal yang mencengangkan ketinggian dataran lahan bawang putih 600 Mdpl dan suhu kisaran 22° C bawang putih ini mampu tumbuh dengan perbandingan bibit dan hasil produksi 1 : 12 atau 1:15 atau bahkan 1:20 kalau pemeliharaan dilakukan intensif dan untuk satu hektar diperlukan bibit sebanyak 1,6 ton. Kalau saja kita ambil tengan 1:15 berarti dalam satu hektar bawang putih yang dihasilkan  24 ton. Dengan angka produksi seperti ini walau hasil produksi dibeli Rp. 10.000,- per kilogram mereka masih bisa untung. Dan ini hampir mendekati hasil bawang impor China yang produksinya 30 to/ha.

Pada usia tanam H-10 masa panen dimana artinya masih ada kemungkinan pertumbuhan siung, saya didampingi para awak media mengambil sample secara acak dan mengukur rata – rata diameter siung tersebut, rata – rata diameter siungnya 4,3 cm, keterangan lebih lanjut sisitem tanam bawang putih ini tumpang sari bukan monolistik. Dan pemeliharaan bawang putih ini tergolong mudah tidak rewel seperti bawang  merah dimana di areal yang berdekatan ada bawang merah yang sudah panen belum masa-nya karena terserang hama. Hal yang kontradiksi dengan apa yang dikeluhkan petani kita pada umumnya yang mengelukan susahnya menanam bawang putih dengan hasil memuaskan dan begitu mahalnya biaya perawatannya sehingga produksi bawang putih ditinggalkan petani dan terbukti dari data dan fakta produksi bawang putih ini semakin menyusut baik hasil produksi dan luas lahan produksinya.

Berdasar data dan fakta diatas bisakah Bibit 99 menjadi solusi mencapai swasembada pangan?

Melihat fakta yang ada di Nunuk Baru ini  sungguh hal yang kontradiksi baik secara ilmiah dan fakta produksi bawang putih dalam negeri. Kenapa hal ini bisa terjadi ? ada dua kemungkinan penyebab kenapa produksi bawang putih 99 bisa mencapai 24 ton/ha di ketinggian 600 mdpl.

Kemungkinan pertama produksi yang mencapai di atas rata - rata produksi bawang putih dalam negeri disebabkan tanah dan cuaca yang memang mampu mensuport pertumbuhan bawang putih sehingga produksinya diluar ekspektasi. Tanah yang berlempung, gembur dan sedikit berpasir serta kaya akan nutrisi organik adalah prasyarat tanaman ini bisa tumbuh, maka kita perlu melakukan kajian ilmiah akan  tekstur dan kandungan tanah tersebut sehingga keputusan yang diambil bisa tepat dalam upaya kita menghadapi persoalan yang sedang kita hadapi. Jika ini memang dibenarkan secara ilmiah maka hal yang perlu dilakukan tidak ada salahnya pemerintah melakukan interpensi agar memproduksi besar - besaran di lahan tersebut terlebih lahan tersebut milik Perum Perhutani tentunya dengan melibatkan petani setempat agar kesejahtraanya meningkat pula. Jika kita melakukan  produksi besar - besaran di lahan tersebut maka ini  akan meningkatkan produksi secara nasional dan harapanya akan kurangi impor dan sedikit bisa menghemat devisa negara. Hemat devisa dan peningkatan kesejahteraan petani lokal meningkat pula itu adalah tujuan kita bersama.

Kemungkinan kedua hal ini disebabkan bibit 99 memang unggul. Jika tanah dan cuaca di Nunuk Baru tersebut memiliki kandungan dan tekstur yang sama dengan lahan bawang putih di daerah - daerah lain berarti yang berbeda dengan daerah lain yang hanya mampu produksi rata - rata 7-8 ton/ha-nya adalah ada segi keunggulan dari bibit yang di tanam karena kalau kita lihat dari segi pemeliharaan, petani menggunakan sistem konvensional tidak dilakukan secara intensif, lihat saja cara tanamnya saja dilakukan dengan tumpang sari. Dengan ini maka hal yang perlu dilakukan tidak ada salahnya jika dilakukan uji coba di daerah lain sehingga analisa ini menjadi ada pembuktian kebenaranya. Andai ini terbukti maka bibit 99 bisa dijadikan solusi mencapai swasembada pangan nasional karena dengan angka 24 ton / ha dibanding China 30 / ha angka produksinya maka produksi kita tidak akan kalah bersaing. Perbandingan biaya produksi akan lebih mahal barang impor dibanding produk lokal dan dari segi kualitas produk kita lebih unggul. Petani akan banyak beralih menanam kembali bawang putih karena sektor ini menjanjikan dalam menopang roda perekonomian dalam meningkatkan kesejahteraan petani serta dengan kondisi ini swasembada pangan nasional akan bawang putih akan tercapai pula.

Dua kemungkinan yang akan mampu mensejahterakan petani minimal petani setempat daerah Nunuk Baru dan mampu menghemat devisa karena ada peningkatan produksi untuk kurangi impor atau bahkan lebih akan mampu meningkatkan kesejahteraan petani seluruh pelosok negeri dan mampu menyelamatkan  Rp. 8 Tryliun yang pertahunnya mengalir ke luar negeri. Alasan inilah yang membuat saya harus berjibaku menganalisa secara lebih detail baik analisa berdasar data dan sedikit kajian ilmiah dari berbagai referensi agar tujuan kita hidup berbangsa dan bernegara mencapai tujuannya sesuai amanat konstitusi kita. terutama disektor ini.(Red) 

Post a Comment

0 Comments